TAQWA
DAN BALASANNYA
Oleh: M. Dwi Cahyono
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ؛.
Hadirin yang di rahmati Allah...
Beberapa waktu lalu kelas 1-6
mengadakan fieldtrip ke berbagai tujuan. Mulai dari yang terdekat hingga yang
terjauh yaitu kelas 5 ke Jakarta. Karena akan melakukan perjalanan tentunya
jauh-jauh hari perlu persiapan yang matang. Mulai dari kesehatan tubuh, baju,
sepatu, sendal yang akan dikenakan, tas yang digunakan pakking, uang saku untuk
perjalanan dan masih banyak hal lain yang disiapkan. Karena kelas 5 yang paling
jauh maka persiapannya tentu lebih banyak.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Sebagaimana perjalanan di atas,
hidup adalah bagian dari perjalanan yang sangat panjang. Kita telah melewati
alam kandungan, dan akan melewati alam kubur, alam barzah, dan alam akhirat.
Lalu pertanyaannya adalah apakah perjalanan panjang ini butuh persiapan?
Jawabannya tentu perlu pesiapan.
Apa
persiapannya? Persiapannya adalah taqwa.
Seringkali kita mendengar
taqwa.. tiap jum’at khatib selalu menyeru untuk meningkatkan taqwa kita. Seolah-olah
ketika telinga kita menangkap kata ‘taqwa’ maka sudah menjadi mafhum bahwa yang
dimaksudkan adalah menjalankan berbagai amal shaleh. Padahal tidak selamanya
demikian.
Ada sebuah kisah seorang pemuda
yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang
syaikh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syaikh menasihati dia dan
teman-temannya, “Kalian tidak boleh
menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya
kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah
kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah
dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”
Maka, pergilah pemuda
tadi menemui ibunya seraya bertanya, “Ibu, apakah pekerjaan yang dulu
dikerjakan ayahku?” Sambil bergetar ibunya menjawab, “Ayahmu sudah meninggal.
Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?” Si pemuda ini terus memaksa agar
diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun, akhirnya si ibu terpaksa
angkat bicara juga, dengan nada jengkel dia berkata, “Ayahmu itu dulu seorang
pencuri!”
Pemuda itu berkata, “Guruku memerintahkan kami -murid-muridnya-
untuk bekerja seperti pekerjaan ayahnya dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam
menjalankan pekerjaan tersebut.”
Ibunya menyela, “Hai,
apakah dalam pekerjaan mencuri itu ada ketakwaan?” Kemudian anaknya yang begitu
polos menjawab, “Ya, begitu kata guruku.” Lalu dia pergi bertanya kepada
orang-orang dan belajar bagaimana para pencuri itu melakukan aksinya. Sekarang
dia mengetahui teknik mencuri. Inilah
saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian shalat Isya’
dan menunggu sampai semua orang tidur. Sekarang dia keluar rumah untuk
menjalankan profesi ayahnya, seperti perintah sang guru (syaikh).
..................................................................................................................................
Dimulailah dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk
ke dalam rumah dia ingat pesan syaikhnya agar selalu bertakwa. Padahal mengganggu
tetangga tidaklah termasuk takwa. Akhirnya, rumah tetangga itu di
tinggalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya, “Ini rumah anak yatim, dan Allah
memperingatkan agar kita tidak memakan harta anak yatim.” Dia terus berjalan dan
akhirnya tiba di rumah seorang pedagang
kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini
memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. “Ha, di sini,” gumamnya. Pemuda tadi memulai aksinya. Dia
berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang disiapkannya. Setelah berhasil
masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia berkeliling di dalam
rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta. Dia membuka sebuah kotak,
didapatinya emas, perak dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu
dia berkata, “Eh, jangan, syaikhku berpesan agar aku selalu bertakwa.
Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu,
sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu.”
Dia mengambil buku-buku
catatan di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Sambil membuka
lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan
berpengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan
memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan
dizakatkan. Dia masih terus menghitung
dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, dia lihat fajar telah
menyingsing. Dia berbicara sendiri, “Ingat takwa kepada Allah! Kau harus
melaksanakan shalat dulu!” Kemudian dia keluar menuju ruang tengah rumah, lalu
berwudhu di bak air untuk selanjutnya melakukan shalat sunnah.
Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan
penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat pula kotak hartanya
dalam keadaan terbuka dan ada orang sedang melakukan shalat. Isterinya
bertanya, “Apa ini?” Dijawab suaminya, “Demi Allah, aku juga tidak tahu.” Lalu
dia menghampiri pencuri itu, “Siapa kau dan ada apa ini?” Si pencuri berkata,
“Shalat dulu, baru bicara. Ayo, pergilah berwudhu, lalu shalat bersama. Tuan
rumahlah yang berhak jadi imam.”
Karena khawatir pencuri itu membawa senjata si tuan
rumah menuruti kehendaknya. Tetapi –wallahu a’lam- bagaimana dia bisa shalat.
Selesai shalat dia bertanya, “Sekarang, coba ceritakan, siapa kau dan apa
urusanmu?” Dia menjawab, “Saya ini pencuri.” “Lalu apa yang kau perbuat dengan
buku-buku catatanku itu?”, tanya tuan rumah lagi. Si pencuri menjawab, “Aku
menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah
menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada
orang yang berhak.”
Tuan rumah itu makin keheranan. Lalu dia
berkata, “Hai, ada apa denganmu sebenarnya. Apa maksudmu?” Mulailah si pencuri
itu bercerita dari awal. Dan setelah
tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan, serta
kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, juga mengetahui
manfaat zakat, dia pergi menemui isterinya. Mereka berdua dikaruniai
seorang puteri. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si
pencuri, kemudian berkata, “Bagaimana sekiranya kalau kau aku nikahkan dengan
puteriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau
boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini. Kau kujadikan mitra bisnisku.” Ia
menjawab, “Aku setuju.” Di pagi hari itu pula sang tuan rumah memanggil para
saksi untuk acara akad nikah puterinya.
.............................................................................................................................
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Lalu, pertanyaannya apa itu taqwa?
Memang sebagian ulama’
mempermudah definisi taqwa adalah imtisalul awamiri waj tinabun nawahi artinya mengerjakan perintah Allah dan
menjahui laranganNya. Kalimat singkat yang mudah diingat namun susah dicerna.
Oleh karena itu pada kesempatan
mulia ini khatib menjelaskan makna taqwa menurut Sayyidina Ali karamallahu wajhah yang dikutib dalam
kitab al-manhajus sawi, oleh al-allamah al-Muhaqqiq al-Habib Zain bin Ibrahim
bin Smith. Syayidina Ali menjelaskan 4
makna taqwa:
Pertama; Al-khaufu minal Jalil artinya bahwa taqwa itu akan menjadikan seseorang
merasa takut kepada Allah swt yang memiliki sifat Jalal. Takut melanggar
berbagai aturan dan ketentuan-Nya. Sehingga apapun yang akan diperbuatnya
selalu dipertimbangkan terlebih dahulu.
Kedua; wal ‘amalu bit tanzil,
artinya bahwa taqwa akan menjadikan seseorang melakukan tindakan/amal baik yang
berdasar pada al-Qur’an yang diturunkan (at-tanzil) sebagai pedoman hidup dan
dasar bersyariat.
Ketiga; al-Qana’atu bil Qalil,
artinya orang yang bertaqwa akan selalu merasa cukup dengan rizki yang sedikit,
sesungguhnya orang yang memiliki rizqi yang sedikit dan merasa cukup dengan
rizqi tesebut adalah bukti sekaligus tanda bahwa orang itu dicintai oleh Allah
swt. Namun demikian Muslim yang kaya yang bertaqwa tentu lebih baik lagi.
Dan keempat, al-isti’dadu li yaumir rakhil, adalah bersiap-siap menghadapi hari perpindahan.
Perpindahan dari alam dunia ke alam kubur lalu ke alam barzah dan ke alam
akhirat. Artinya segala amal orang yang bertaqwa senantiasa dalam rangka
menyiapkan diri akan hadirnya hari kematian. yaitu hari keberangkatan dari alam
dunia menuju alam akhirat.
Oleh karena itu ketika
Rasulullah ditanya “siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia di
hadapan Allah?” beliau menjawab : mereka
adalah Manusia yang paling banyak mengingat kematian dan paling semangat
mempersiapkan diri menghadapinya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Marilah kita berikhtiar untuk
meningkatkan taqwa kita, sebab taqwa akan membawa kepada tercapainya
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Sebagaimana janji Allah dalam
al-Qur’a di antara:
1. Diberi jalan keluar dari segala kesulitan

Barangsiapa
yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke
luar. (QS.At-Talaq:2)
2. Diberi rizki yang tak terduga-duga

Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka sangkanya (QS.At-Talaq:3)
3. Dimasukkan ke Surga

"Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang orang yang bertaqwa”. (QS.Ali
Imron 133)
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ،
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ
، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ
عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Dalam khutbah pertama tadi
dijelaskan pengertian taqwa:
Pertama; Al-khaufu minal Jalil
Kedua; wal ‘amalu bit tanzil,
Ketiga; al-Qana’atu bil Qalil,
keempat, al-isti’dadu li yaumir rakhil
kemudian dijelaskan pula janji
Allah kepada orang bertaqwa.
1.
Diberi jalan keluar dari segala kesulitan
2.
Diberi rizki yang tak terduga-duga
3.
Dimasukkan ke Surga
Marilah kita berusaha
meningkatkan taqwa kita dimana saja berada sebagaimana hadis rasul ittaqillah
haitsuma kunta.... bertaqwalah di mana saja. Tatkala di depan umum maupun
ketika sendirian. Mudah-mudahhan kita ditakdirkan menjadi orang yang yang
bertaqwa sehingga memiliki derajat paling tinggi disisiNya.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ
أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ
الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.
Wallahu a'lam...
Disampaikan pada 1 April 2015 di MIN Malang 1.
No comments:
Post a Comment
Terima kasih...semoga Anda bahagia..