Malang, 27 November 2025 – Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang telah berhasil menyelenggarakan The International Conference on Islamic Education (ICIED). Acara yang mengusung tema "Impactful Education: Integrating Technology And Ecotheological Values for Sustainable Future" ini diadakan pada hari Kamis, 27 November 2025.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, FITK UIN Malang menggelar Parallel Session: Scholars Talks dengan topik "Integrating Ecotheological Value into 21st Century Learning Innovations to Create Impactful Education". Sesi ini menghadirkan empat narasumber dari latar belakang profesional yang beragam, yaitu:
1. Prof. Taufiqurrahman, M.Pd.
2. Prof. Esa Nur Wahyuni, M.Pd.
3. M. Dwi Cahyono, S.Pd, M.Pd.I, Guru MIN 1 Kota Malang.
4. Ida Fitri Anggraini, S.Pd., M.Pd.
Keberagaman latar belakang narasumber—mulai dari pengajar madrasah, researcher, hingga profesor—memberikan perspektif yang luas mengenai bagaimana nilai-nilai ekoteologi dapat ditanamkan pada berbagai jenjang pendidikan.
Aksi Nyata dan Perspektif Akademis
M. Dwi Cahyono, yang merupakan Guru MIN 1 Kota Malang, mempresentasikan Teacher's Best Practice dengan judul "Dari Ayat ke Aksi: Ekoteologi dalam Kokurikuler ‘Madrasahku Hijau’ di MIN 1 Kota Malang". Beliau menjelaskan bagaimana program kokurikuler Madrasahku Hijau di MIN 1 Kota Malang berkomitmen membangun perilaku ekologis yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 4.7 (Education for Sustainable Development).
Dalam materinya, M. Dwi Cahyono menegaskan bahwa ajaran Islam harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya berhenti pada teks keagamaan. Konsep Ekoteologi digunakan sebagai fondasi moral, berlandaskan ajaran Al-Qur'an, yang menegaskan manusia sebagai khalifah fil ardh (penjaga bumi, QS. Al-Baqarah: 30) dan melarang perusakan di bumi (QS. Al-A’raf: 56). Melalui implementasi nilai-nilai ini, program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran ekologis siswa, menguatkan karakter peduli lingkungan, dan mendukung capaian Adiwiyata madrasah.
Sementara itu, narasumber lainnya memberikan perspektif yang komprehensif:
• Prof. Taufiqurrahman menyoroti minimnya isu lingkungan dalam literatur dan pembelajaran bahasa Arab, serta menegaskan urgensi memperkaya kajian ekoteologi di Indonesia. Beliau membandingkan kekayaan sumber daya alam Indonesia dengan kerusakannya yang sering terjadi.
• Prof. Esa Nur Wahyuni menjelaskan bahwa agar nilai ekoteologi berdampak pada peserta didik, pendidik harus memperhatikan empat sistem yang memengaruhi perkembangan manusia: Mikrosistem, Makrosistem, Mesosistem, dan Eksosistem. Prof. Esa juga menekankan bahwa alam harus diperlakukan setara dengan manusia, bukan sekadar objek.
Diskusi yang terjadi pada sesi Scholars Talks ini menegaskan pentingnya pendidikan berwawasan ekoteologi sebagai langkah strategis untuk mengembangkan pembelajaran abad ke-21 yang inovatif, berkelanjutan, dan berkesadaran ekologis.






